GADIS KECIL, IBU DAN STASIUN

by - Saturday, February 07, 2015


Stasiun tidak seramai biasanya. Pun dengan langit, tak secerah biasanya. Padahal saat itu sudah pukul Sembilan. Banyak orang dewasa menunggu kereta dengan menggenggam payung, menunjukkan wajah gelisah, dan menatap langit dengan penuh harapan agar tak hujan.

Hujan, sebuah berkah yang diharapkan tidak datang sesegera mungkin dalam keadaan saat itu. Memangnya siapa yang bisa mengatur alam?

Ada seorang gadis kecil, bersandar pada sebuah tiang lampu berwarna oranye. Ia tak peduli soal hujan, kereta datang terlambat, atau orang-orang yang sibuk pada dunia lima inchi-nya. Gadis kecil itu berparas mungil dan lucu, dengan gaya rambut pendek juga poni yang sedikit berantakan. Kira-kira Ia berumur tujuh tahun.

Gadis kecil itu datang bersama dengan Ibunya, yang juga sibuk pada dunia lima inchi-nya. Ia mungkin merasa diabaikan, tak ada hal yang harus dilakukan. Ia juga tak bisa bermain, karena Ia tak membawa mainan saat menunggu kereta tiba. Sepertinya, Ia juga bukan tipe anak-anak yang memiliki ketergantungan dengan teknologi.

Melihat sekitarnya, gadis kecil itu tersadar semua orang telah sibuk dengan dunia lima inchi-nya sendiri. Bahkan Ibunya juga demikian. Sedangkan Ia, hanya memiliki sebungkus wafer coklat dalam genggamannya. Mungkin itu pemberian Ibunya, padahal Ia sedang tidak lapar.

Saya menatap gadis kecil itu, dan nampaknya Ia masih memiliki sesuatu yang tak kasatmata.

Gadis kecil itu memiliki imajinasi. Sebuah permainan yang ternyata dapat dibawa kemana pun tanpa harus punya bentuk. Pagi itu menjadi berbeda, saya menyaksikan seorang anak kecil yang tidak diperhatikan oleh sekitarnya sedang bermain dengan imajinasinya sendiri. Ia memanfaatkan benda-benda yang berada didekatnya untuk diajak berinteraksi. Dengan penuh keceriaan, Ia menikmati imajinasinya. Ia mencoba meniru sang Ibunya yang sibuk dengan telepon genggamnya, berpura-pura menelepon seseorang, melakukan monolog dengan penuh keceriaan dan sebagainya.

Saat saya memperhatikan gadis kecil itu, dari kejauhan Ia mencoba menyapa saya. Mencoba memberi tahu sesuatu tentang keadaan stasiun dan rel kereta. Ia juga mencoba mengajak saya untuk bermain dalam imajinasinya. Namun sayangnya, kereta datang dengan tepat waktu. Tak ada jeda untuk saya memainkan permainan itu.

Gadis kecil itu masuk ke dalam gerbong kereta, pun demikian dengan saya. Dalam gerbong yang berbeda, saya tidak tahu lagi imajinasi apa yang sedang dimainkannya.  

You May Also Like

0 comments